Showing posts with label Sekitar kita. Show all posts
Showing posts with label Sekitar kita. Show all posts

Thursday, March 05, 2009

Penjara Syaikh Puji

Lagi-lagi Syaikh Pujiono bikin geger berita di TV. Syaikh Puji membangun penjara untuk orang-orang yang melakukan nikah sirri. Dengan sombongnya dia menantang pemerintah untuk mengirimkan para calon tahanan yang melakukan nikah sirri ke penjara yang dibangunnya dalam berbagai jenis type (penjara dengan type VIP, standar?? kok mirip hotel ^=^).. untuk diurus, termasuk makannya
Bahkan dia menyebutkan siap untuk membangun penjara untuk para penikah sirri seluas 14 ha !! Hebat ! Tapi kurang tepat, saya fikir kalo memang dia mempunyai uang sebanyak itu, ya sudah, bangun saja pemukiman untuk kaum miskin dan dhuafa yang di Indonesia, kan lebih menjadi solusi untuk membantu Pemerintah dalam menangani kemiskinan, dan yang pasti lebih berpahala bukan??

Ibunafarras, Ang IV

Tuesday, February 10, 2009

4 SKENARIO

Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangka n kaki.
Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita). Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita.
Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata, "Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya."
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui "orang baik" tersebut.
Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?
Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan sepertinya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya kita tiba di rumah.
Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. " SMS pun dikirim dan tidak ada balasan. Kita sudah putus asa.
Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut.
Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di scenario ketiga).

Moral of the story
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya.
Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.
Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu?
Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario.
Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone yang kita miliki.

Kesimpulan
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman kita. Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur? Sebaiknya tidak.
Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.
Mudah -mudahan kitaa bisa mengamibil hikmah dari cerita ini...
(dari berbagai sumber.....yetty K ssg III)
mUDA2

Thursday, February 05, 2009

Demonstrasi anarkis mahasiswa di Sumatera Utara

Demonstrasi anarkis mahasiswa di Sumatera Utara menambah panjang daftar point negatif mahasiswa di kalangan pemerintah. Mungkin tahun 1998, bisa dikatakan bahwa mahasiswa menjadi pahlawan reformasi, namun kejadian di kantor DPRD Sumut justru sebaliknya!!!

Sama sekali tidak mencerminkan jiwa mahasiswa, yang katanya terpelajar. Mungkin memang ada beberapa oknum diantara mahasiswa yang melakukan demo di DPRD Sumut tersebut, namun tentunya untuk mahasiswa lainnya, kenapa harus terpengaruh oknum?? kenapa tidak berfikir sebelum bertindak??
Saya cukup kaget ketika membaca kronologis kejadiannya, sampai ketua DPRD Sumut wafat... sama sekali tidak berprikemanusiaan. Mungkin boleh demo, tapi kalau dengan cara anarkis seperti itu, yang ada bukan menyelesaikan masalah, tapi menambah masalah.
Apalagi dengan merusak aset-aset negara. Apa salahnya meja, sampai dilempar-lempar? seperti juga terjadi pada demo-demo yang lain, yang melakukan pengrusakan aset-aset negara. Yang terjadi adalah negara harus mengeluarkan biaya lagi yang cukup besar untuk mengganti aset-aset yang rusak. Coba jika tidak ada pengrusakkan aset, mungkin bisa digunakan untuk kepentingan rakyat lainnya yang lebih manfaat. So.. untuk para pendemo, ayo kita berdemo, kita sampaikan aspirasi rakyat, tapi dengan cara yang baik, kalo Aa gym bilang, demo 'yang cantik'..

Ibunafarras

Monday, January 26, 2009

TOLERANSI - SENJATA PEMUSNAH MASAL MILIK KUFFAR

oleh Shaykh Dr. Abdalqadir As-Sufi

Apa yang kemudian berlaku dari proses Tolérance ini adalah hasil yang diinginkan, yaitu dihapusnya komunitas yang bersalah, apakah melalui pemusnahan dengan cara melakukan perang 'keadilan' atas mereka- yaitu perang melawan teror - maupun melalui asimilasi total pihak tertuduh alhasil sirnalah etos yang disidik melalui dialektika ini.


Di Jakarta pada akhir Februari 2004 lalu, sebuah konferensi yang mengaku diri sebagai Konferensi Internasional Ulama Islam, diadakan dengan sub-judul "guna mengangkat prinsip-prinsip islam." Kami sudah memaparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya bahwa kuffar kini sedang mendalangi dialektika, yang mana hasilnya akan sama saja dari sudut pandang yang manapun, yaitu hasil yang mereka inginkan. Dialektika ini telah kita namakan sebagai Politik Isma'ili, dan adalah penyimpangan yang ke luar dari Islam, yang pas sekali dengan keadaan zaman sekarang. Teorinya adalah untuk membiarkan serangkaian aksi teror yang begitu mengerikan terjadi hingga pihak yang dituduh melaksanakannya, baik karena letih maupun benci, digiring kepada kebalikannya. Kemudian antitesanya ditawarkan kepada komunitas yang kini merasa bersalah dan malu. Solusi yang timbul yang konon dipaparkan sebagai 'ketertiban setelah kekacuan', dan sebagai 'keadilan setelah ketidak-adilan' , adalah 'Toleransi'.

Lebih baik bagi kita untuk menggunakan istilah tersebut dalam bentuk tulisan Perancis, yaitu Tolérance , karena istilah itu dilahirkan dengan sengaja sebagai salah satu alat kekuasaan dalam rangka pendirian negara ateis segera setelah Revolusi Perancis. Doktrin ini sebenarnya sangat tak masuk akal karena buktinya adalah kebalikannya. Jika kita amati dengan seksama jelaslah alat kekuasaan ini dibidik kepada sekelompok guna mengubah mereka agar tunduk pada tatanan moral kelompok lawannya. Dengan kata lain, mengandung dinamika satu arah. Maksud kami adalah bahwa doktrin Tolérance memaksa kelompok yang dituduhnya untuk "Toleransilah pada kita!" Terkandung di dalamnya adalah mustahilnya berlaku timbal-balik dari kelompok yang meminta ditolerir. Ini harus digaris bawahi. "Kalian harus mentolerir kita - tapi situasi anda tak bisa diltolerir karena kalian mencoba menekan kita dengan teror."

Apa yang kemudian berlaku dari proses Tolérance ini adalah hasil yang diinginkan, yaitu dihapusnya komunitas yang bersalah, apakah melalui pemusnahan dengan cara melakukan perang 'keadilan' atas mereka- yaitu perang melawan teror - maupun melalui asimilasi total pihak tertuduh alhasil sirnalah etos yang disidik melalui dialektika ini.

Dari sudut pandang materialis, apa yang mereka sesumbar sebagai Perang atas Teror sebenarnya sangat menarik karena satu komunitas, dengan dukungan antek-anteknya, bersedia untuk menggelarkan semua persenjataan teknologi mereka guna memerangi musuh-musuh mereka, sampai kepada seluruh kekuatan polisi rahasia internasional mereka, bahkan hingga ditariknya kembali protokol-protokol kebebasan madani hasil jerih-payah mereka sendiri. Di sisi lain para teroris hanya memiliki badan-badan mereka sendiri yang mereka sedia korbankan dalam arena musuh mereka, yang kemudian berakibat ditimpanya komunitas mereka sendiri dengan bencana hasil bunuh-diri itu.

Tak bisa dipungkiri bahwa dari sudut Islam, seorang Muslim yang melakukan bunuh diri akan masuk Api ( naarul-jahannam ). Andai kita berbalik kepada penerapan doktrin politik Tolérance kita akan menghadapi masalah yang lebih parah lagi. Dipegangnya doktrin ini, dakwahnya doktrin ini, dukungan atas doktrin ini, mengajak pihak lain pada doktrin ini, adalah program kafir di zaman ini untuk menghapuskan Islam. Ideologi yang dikumandangkan oleh Nazi adalah " Kirche, Küche und Kinder" (Gereja, Dapur dan Anak-anak), sebuah program yang nampak damai dan "menjunjung kehidupan", sementara penerapan program manis ini berarti harus segera menghapus segolongan ras manusia yang mereka anggap tak mendukung ideologi ini. Melihat rencana dan pelaksanaan yang sudah berjalan dari program genosida ( pemusnahan massal ) atas Muslimin, Tolérance mirip dengan ideologi Nazi itu.

Alhasil tak seorangpun boleh dibiarkan memasuki dialektika kuffar. Dengan demikian dari sudut pandang Islam penolakan atas Tolérance tak terpisahkan dengan penolakan atas terorisme. Masalah terorisme adalah masalah mereka, karena kita Ummat Dunia bukanlah pelakunya, apalagi sebagian dari aksi teror dipicu oleh mereka sendiri dengan terus menggunakan agen-agen provokator mereka. Sebaliknya, Tolérance adalah masalah kita dan keteguhan kita untuk menolaknya haruspun sempurna. Jika kita tak acuh pada peringatan ini, masa depan setiap masyarakat Muslim adalah menjadi seruntun Cagar-Muslim Nasional, terusir dari segenap lingkaran kekayaan, perdagangan dan kedamaian. Komunitas Arab-Palestina yang kini hampir putus dari pendidikan Islam yang benar, tentu salah telak jika mereka kira dinding Israel ada kemiripan dengan dinding Berlin, karena dinding Berlin hanyalah pembatas antara dua masyarakat musuh yang pada intinya sama saja. Namun, sebenarnya sama dengan situasi di Pale yang mendorong para yahudi memasuki kawasan payau Polandia demi 'bersih'-nya zona masyarakat Rusia.

Kini mari kita amati dengan seksama Konferensi Jakarta. Jika ada setitikpun keraguan kita atas kuatnya komitmen kafir pada Doktrin Tolérance , maka Konferensi Jakarta dapat diacungkan sebagai bukti kuat atas sampai mana kemajuan dan kerjasama kuffar pada gerakan ini. Presiden Megawati Sukarnoputri yang tak dikenal dengan ketajaman intelektualnya, dalam pidato pembukanya di acara tersebut, dalam waktu singkat sudah mengutarakan doktrin kembarannya kuffar, yaitu Hak-hak Asasi Manusia - HAM (bacalah pidato pentingnya Hajj Abu Bakr Rieger, Rais Gerakan Dakwah se-Dunia Murabitun, sebagaimana ia sampaikan di Konferensi Fiqh Internasional di Pretoria pada Oktober 2003, tersedia di website ini). Belum lagi desahan dan gumaman Presiden Megawati yang hampir tak kentara mengenai masuknya AS ke dalam Iraq, tak selantang perlawanan Menteri Luar Negeri Perancis, yang didasari dengan hukum internasional.

Allah Ta'Ala mengatakan dalam surat Ibrahim (14:52 dalam riwayat Warsy):
"(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran."

Jadi, jika kita melihat tafsir sahih ayat-ayat Quran di atas hingga ke Sunnah Rasulullah Salallaahu 'Alaihi Wasallaam, mengenai apa itu Diinul-Islam, maka akan berdampak politik yang sangat dalam. Tak ada lagi yang lebih layak untuk mengutuk Konferensi Jakarta ini selain dengan menunjukkan bahwa landasan kesombongan dalam deklarasi-deklarasi nya berakibat kita menolak keberadaan Rasul kita yang tercinta, Salallaahu 'Alaihi Wasallaam.

Butir pertama Deklarasi Jakarta jelas sekali merupakan persiapan perpindahan dari Islam ke Tolérance yang bertuhan esa. Deklarasi tersebut menyerukan segenap Muslim untuk "menjunjung tinggi kedamaian, keadilan, kebebasan/kemerdeka an, kemoderatan, toleransi, stabilitas, musyawarah, dan persamaan hak, sebagai landasan asasi kehidupan manusia." Tentu saja itu sama saja dengan doktrin-nya konstitusi AS, yang berbasis ateis-humanis dan yang juga mengakibatkan bendera mereka berkibar ketika mereka maju menindas dan membunuh-massal suku-suku Amerika asli dari suku Navajo hingga Sioux dll, bahkan sampai sangat antusias ketika dengan Senjata Pemusnah Massal mereka, meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Maka dari itu jika para pengusung Deklarasi Jakarta manut pada doktrin-doktrin ini, tentu saja merekalah yang akan jadi korban berikutnya.

Shaykh Ahmad ibn al-Bashir al-Qalaawi ash-Shinqueeti Dalam maha-karyanya, 'Islam dalam Madzhab Madinah', menulis:

"Shaykh Abu'l-Qasim Abd al-Jalil al-Qasri mengatakan mengenai 'Aqida: 'Kalian lihatlah [orang-orang] yang sombong dan berlebih-lebihan, melihat rendah orang lain dan membenci mereka. Ketika orang sedemikian ditanya, "Apakah kewajiban utama? Di mata Fiqh/hukum, kapankah seseorang bertanggungjawab penuh? Apa buktinya bahwa jalan seseorang adalah jalan yang benar? Dan apakah kedzaliman yang harus dihindari sesiapapun?" - ia akan bungkam sepi bak kuburan dan lebih takut dibanding seekor hewan yang kena jebakan. Himmah-nya yang tadinya tinggi tiba-tiba berkurang jadi nihil, dan semua hal dalam nafsunya yang tadinya seperti berkuasa, berbobot dan penting, tiba-tiba tunduk. Ia menjadi tawanan ketakutan dan bungkamnya sendiri. Camkanlah bencana yang menimpanya! Camkanlah kerugian yang dideritanya! '

Aku mengatakan: 'Andaikan ia memperhatikan bencana yang menimpanya di dunia, dan ingat bahwa ketika ia wafat di (alam) kubur akan ada pertanyaan-pertanya an Munkar dan Nakir mengenai tauhid; dan kengerian alam berikutnya akan dialami setiap manusia - yang mana tak satupun dapat selamat kecuali mereka-mereka yang telah diberkati Allah dengan ilmu bermanfaat mengenai Allah; dan bahwa yang Haq dan Bathil akan dipisahkan; dan bagaimana segala sesuatu yang tersembunyi yang berasal dari kejahiliyahan Diin akan terbuka nyata; dan bagaimana yang sombong dan berlebih-lebihan, karena berpaling dari tauhid dan karena menyibukkan diri mereka dengan apa yang tak menyangkut mereka, hanya akan menuai sesal dari apa yang mereka tanamkan di dunia ini; dan bahwa semua kesedihan dan penyesalan pada masa itu tak akan menghasilkan apa-apa.'"

Ayat ketiga dalam Deklarasi Jakarta adalah, "Untuk menerima perbedaan budaya dan kemasyarakatan setiap individu sebagai rahmat dari Allah."

Itu adalah penolakan mentah yang disengaja terhadap pembeda dan fruqan yang Allah Azza Wa Jalla telah landaskan dalam Quran-Nya. Dan salah satu nama Quran adalah 'al-Furqan' (pembeda). Ayat di atas yang memuat istilah-istilah 'individu', 'kebudayaan' dan 'kemasyarakatan' , adalah bahasa dan kosa-kata sosiologi, sebuah ilmu jejadian, dengan demikian para pembicara di Konferensi itu adalah para sosiolog atau para akademisi, bukan fuqaha . Dalam Surat at-Taubah (9:67-68 riwayat warsy), Allah Ta'Ala berkata:
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik."

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Selanjutnya dalam surat yang sama (ayat71-73):
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan RasulNya.

Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya,
dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di taman 'Adn.
Dan keridhaan Allah adalah lebih besar;itu adalah keberuntungan yang besar.

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. "

Dalam ayat keempat kita mencapai jantung hutan belantara kejahiliyahan: "Untuk sekali lagi mendifinisikan pendidikan Islam sebagai landasan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan untuk mendukung prinsip-prinsip kebersamaan bagi setiap individu, untuk memupuk hubungan harmonis antar agama dalam skala internasional. " Setelah membaca itu semua muslim harus tahu bahwa mereka telah ditipu dalam Deen mereka . Doktrin kafir dalam ayat keempat tadi didukung oleh ayat 5 sebagai berikut: "Untuk mendukung penuh dalam pembentukan dialog antar-agama yang konstruktif sebagai landasan saling menhormati dan saling memahami."

Dari sudut Islam yang Sahih, masalah di atas dijelaskan dalam perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam Surat at-Taubah (9:29-33). Allah Subhanahu wa Ta'Ala mengatakan:
"Perangilah orang-orang ahli kitab yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak ber-Deen dengan Deen yang benar, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah memerangi mereka , betapa sesatnya mereka!

Mereka menjadikan rabbi-rabbi (yahudi) dan rahib-rahib (kristen) mereka sebagai tuhan selain Allah dan (begitu pula) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia! Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir tak menyukai.

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."

Kepada segenap Muslimin Indonesia yang mulia, lurus dan saya hormati, mohon sampaikan kabar kepada anggota-anggota dewan Nahdlatul Ulama beserta ketuanya yang menyimpang Hasyim Muzadi, yang sudah sempoyongan di pinggir jurang kekufuran, mengenai kata-kata terjaga ini dalam Quran:
"Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."
sumber:reg_ar@yahoo.com

Sunday, January 18, 2009

Daftar tentang Kekejian Israel

  • Pembantaian Yehida, 1947: 13 tewas.
  • Pembantaian Khisas, 1947: 10 tewas.
  • Pembantaian Qazaza, 1947: 5 anak-anak tewas.
  • Pembantaian di Deir Yassin, 1948: Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan lainnya diperkosa. Sekitar 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka
  • dibunuh secara keji. Lebih dari 280 warga Palestina syahid di tangan zionis.
  • Pembantaian Hotel Semirami, 1948: 19 tewas.


  • Pembantaian Naser al-Din, 1948: Sekelompok teroris Zionis berpakaian tentara Arab menembaki penduduk kota yang meninggalkan rumahnya untuk menyambut mereka. Hanya 40 orang yang lolos dari pembunuhan ini, dan desa tersebut terhapus dari peta.
  • Pembantaian Tantura, 1948: 200 tewas.
  • Pembantaian Mesjid Dahmash, 1948: 100 tewas. Sekitar 60.000 orang Palestina keluar dari negerinya, dan 350 orang lebih tewas dalam perjalanan karena keadaan kesehatan yang parah.
  • Pembantaian Dawayma, 1948: 100 tewas. Sebagian besar yang terbunuh tengah berada di mesjid untuk melakukan shalat Jumat. Wanita-wanita Palestina diperkosa selama serangan ini, sementara rumah-rumahnya diledakkan dengan dinamit, padahal ada orang di dalamnya.
  • Pembantaian Houla, 1948: 85 tewas. Tentara Israel memaksa 85 orang untuk masuk ke dalam sebuah rumah, kemudian rumah itu dibakar. Setelah itu, sebagian besar warga yang merasa takut melarikan diri ke Beirut. Dari 12.000 penduduk asli Houla, hanya 1200 orang yang tersisa.
  • Pembantaian Salha, 1948: 105 tewas. Setelah penduduk suatu desa dipaksa masuk ke mesjid, orang-orang tersebut dibakar hingga tak seorang pun yang tersisa hidup-hidup.
  • Pembantaian Deir Yassin, 9 April, 1948: Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, hidup-hidup. Anggota tubuh korban dipotong-potong, lalu anak-anak dihantam dan diperkosa. Selama pembantaian Deir Yassin, 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh sedang kepalanya dipenggal. Lebih dari 60 orang wanita terbunuh lalu tubuh-tubuh mereka dipotong-potong.
  • Pembantaian di Qibya, 1953: 96 tewas. Sebagian besar mayat mengalami luka tembak di belakang kepala, dan banyak yang tanpa kepala. Bersama orang-orang yang tewas di bawah reruntuhan rumah mereka, banyak wanita-wanita dan anak-anak tak berdosa yang juga dibunuh secara brutal.
  • Pembantaian Kafr Qasem, 1956: 49 tewas. Pembantaian Khan Yunis, 1956: 275 tewas.
  • Pembantaian di Kota Gaza, 1956: 60 tewas.
  • Pembantaian Fakhani, 1981: 150 tewas.
  • Pembantaian Sabra dan Shatila, Lebanon, 1982: Merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga Palestina. Arsitek pembantaian itu adalah Ariel Sharon yang bekerjasama dengan kelompok Phalangis Kristen, Lebanon.
(Catatan: Setelah Perang 1967, Sharon menyebabkan 160.000 orang Palestina meninggalkan Yerusalem Timur dan menjadi pengungsi. Ketika Sharon menjadi penanggung jawab keamanan di Jalur Gaza, 16.000 orang diusir untuk kedua kalinya).
  • Pembantaian di Masjid Aqsa, 1990: 11 syahid dan 800 terluka.
  • Pembantaian di Mesjid Ibrahimi, 1994: Lebih dari 50 orang Islam tewas dan 300 orang luka-luka.
  • Pembantaian Qana, 1996: 109 tewas. Pemandangan mengerikan karena pembantaian ini, termasuk anak-anak yang dipenggal kepalanya, tidak akan pernah terlupakan.

Contoh-contoh yang disebutkan di atas hanyalah pembantaian ketika banyak orang-orang Palestina kehilangan jiwanya dalam satu hari saja.
Di luar ini, puluhan orang dibantai setiap harinya selama puluhan tahun, bahkan hingga detik ini. Ironisnya, selama itu pula para penguasa Arab dan Muslim hanya diam, bahkan sebagiannya bersekongkol dengan Israel dan AS.

Hanya Jihad para tentara MUSLIM saja yang dapat menghentikan kebiadaban Israel.

Sumber : "buce tanjung" buce.tanjung@ gmail.com

Monday, January 12, 2009

Khaibar...Khaibar...Ya..Yahuuud.....

Oleh Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) - Belum pernah Israel seterancam seperti sekarang, apalagi belum genap dua tahun lalu, superioritas militernya terhadap Arab dipatahkan Hizbullah di Lebanon.

Kini, tak ada satu pun kota Israel yang aman dari serangan Arab meski puluhan skuadron pesawat tempur canggih dan wahana anti rudal menjaga ketat kota-kota Israel.

Bahkan saat tank-tank canggih Abrams, lusinan heli tempur Apache dan salah satu pasukan infanteri paling terlatih di dunia menginvasi Gaza sejak 3 Januari 2009, luncuran roket Hamas tetap menghujam bumi Israel.

"Hamas masih cukup memiliki roket dan mortir untuk terus ditembakkan jauh ke dalam wilayah Israel sampai beberapa minggu," kata Kepala Litbang Intelijen Militer (Aman), Jenderal Yossi Beidatz, seperti dilansir AFP (6/1).

Hamas yang berada di jantung Israel kian mengancam negara Yahudi itu dan didukung rakyatnya terbukti pemilu Palestina Januari 2006 lalu telah memenangkan Hamas dan membuat Israel serta rezim-rezim Arab sekutu AS ketakutan.

Israel harus menerima kenyataan, semua pemenang proses demokrasi di Timur Tengah berubah menentangnya, tak terkecuali Turki yang sebelumnya menjadi sahabat kentalnya atau Iran yang kini menjadi musuh paling fanatiknya.

Israel juga menghadapi Presiden terpilih AS yang bungkam menyikapi ulah usilnya di Timur Tengah, padahal sebelumnya rezim-rezim baru Washington selalu berhasil dipancing Israel untuk berkomentar.

Wayne White, mantan analis Timur Tengah di Departemen Luar Negeri AS, menilai Obama bungkam karena ia menghadapi kompleksitas konflik Gaza dan melihat Israel berlaku bodoh di Gaza.

"Jika saya Obama, saya juga akan memilih bungkam," kata Wayne seperti dikutip Washington Times (30/12).

Sendirian

Ketika Obama akhirnya berbicara, si hitam beradik keturunan Indonesia itu tidak mengisyaratkan ia bersetuju dengan Israel, sebaliknya menyampaikan kalimat yang netral sehingga tak membuat gerah Arab.

"Tegasnya, saya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas konflik yang berlaku di wilayah itu," kata Obama seperti dikutip DPA (7/1), tanpa mengomentari legalitas agresi Gaza yang justru diinginkan Israel.

Sikap diam Obama adalah kemunduran bagi Israel yang malah menegaskan fokusnya pada perbaikan ekonomi dan dengan cerdik membebankan Gaza pada rezim George Bush yang turut mengarsiteki krisis Gaza.

"Saya kira pemerintah Bush sangat nyaman mendukung Israel dan tak melibatkan diri atau mencoba upaya gencatan senjata," kata Scott Lasensky, analis United States Institute of Peace, mengomentari aransemen Bush di Gaza.

Sejumlah kalangan bahkan meminta Obama tegas dengan tidak menuruti Israel.

"Obama mesti memulai inisiatif baru karena proses damai Annapolis pada November 2007 tidak menghasilkan apa-apa," ulas Nathan Brown, analis Carnegie Endowment for International Peace, menunjuk prakarsa damai kreasi Bush yang menguntungkan Israel semata itu.

Jelas, Israel sendirian di Timur Tengah, apalagi Bush yang memanjanya segera raib dari Gedung Putih.

Turki yang lama menjadi sekutunya pun menjaga jarak setelah pemerintahan pimpinan AKP enggan menyeret Turki merapat ke Israel.

Jangan tanya sikap Eropa karena banyak negara seperti Prancis dan Jerman, geram terhadap ulah Israel yang gemar menyepelekan hukum internasional.

"Tuan Presiden (Shimon Peres), anda menghadapi masalah serius dengan dunia internasional dan citra Israel tengah hancur," kata anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Uni Eropa Benita Ferrero-Waldner saat menyampaikan sikap Eropa di Gaza.

Hanya karena ingin memupus perasaan bersalah atas genosida semasa Perang Dunia Kedua, Eropa ingin terlihat seimbang di Palestina dengan menyeru Hamas mengakhiri serangan roket ke Israel.

Sadar

Israel sendiri sadar petualangannya di Gaza tak akan sepermanen saat mereka merampas Sinai pada Perang 1967, lagipula ekspedisi kali ini hanya untuk konsumsi pemilu.

Israel juga tahu Hamas yang menjadi musuhnya sekarang lebih militan dibanding musuh musuhnya pada masa lalu, diantaranya karena memiliki roket-roket Iran yang menjangkau semua wilayah Israel.

Oleh karena itu, agresi Gaza adalah juga pesan Israel pada Iran yang membuatnya menjadi demikian tidak aman dan tak lagi superior. Iran menodong Israel dengan roket Grad dan Fajar tanpa menggelarkan seorang pun tentara.

"Iran cukup memasukkan anasir kimia dan biologi pada rudalnya dan hancurlah Negara Yahudi. Itu semua dilakukan secara terselubung melalui Hamas dan Hizbullah sehingga Iran bisa mengklaim diri bersih," kata Profesor Rabbi Daniel Zucker, ketua Americans for Democracy in the Middle-East seperti dikutip Jerusalem Post.

Israel juga tak bisa mengandalkan sekutu Arabnya yang belakangan terlihat rapuh dirongrong oposisi yang umumnya senafas dengan Hamas.

Keengganan Mesir untuk tegas di Palestina misalnya, lebih karena dimotivasi oleh kekhawatiran Hamas menulari kaum oposisi Mesir. Pandangan serupa dianut rezim Arab moderat lainnya seperti Arab Saudi dan Yordania yang tak ingin shiah Iran menyemangati kaum oposisi.

Presiden Husni Mubarak tak saja khawatir Hamas mengancam Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Fatah, tapi juga karena dia memiliki agenda politiknya sendiri, menetralisir oposisi muslim militan, khususnya Ikhwanul Muslimin.

Ikhwanul memang dinyatakan terlarang, namun para aktivisnya yang kini menjadi anggota parlemen dari garis independen telah membentuk kaukus oposisi besar di parlemen di mana tokohnya yang bernama Mohamed Habib menuduh Mubarak bersekongkol dengan Israel.

Habib juga menyebut Israel telah mengiris wilayah Arab, menjarah kekayaannya dan menghapus identitas budayanya. Untuk itu, Habib melihat perlawanan Palestina di Gaza adalah garis depan pertahanan Arab guna menghadapi rekayasa Israel.

Ekspedisi militer Israel di Gaza adalah memang rekayasa dan petualangan Partai Kadima dalam menaikkan popularitasnya menjelang pemilu legislatif 10 Februari 2009.

Kalau dulu PLO atau Hizbullah di Lebanon yang menjadi pion pendongkrak popularitas politik Tel Aviv, maka kini mereka memainkan Hamas sebagai bidak pendongkrak popularitas politik dengan membesar-besarkan ancaman Hamas. Padahal, militansi Hamas adalah reaksi dari embargo tak manusiawi Israel di Gaza.

Dengan embargo Gaza, Israel ingin melemahkan Hamas sehingga tak mampu memerintah dan Gaza pun kacau untuk kemudian menjadi pintu masuk bagi penggulingan Hamas oleh Israel.

Hamas berupaya menembus blokade itu, mulanya dengan penyelundupan, namun frustasi dan terpaksa mengadopsi serangan bersenjata, satu tindakan yang justru diinginkan Israel karena menjadi pembenar bagi invasi ke Gaza.

Pengepungan

"Padahal bukan hanya Hamas yang ingin mengakhiri pengepungan Israel, tapi juga seluruh rakyat Palestina. Itu keinginan semua manusia dan bangsa yang bercita-cita hidup sebagai manusia merdeka," kata editor Jerusalem Post, Larry Derfner (31/12).

Dengan merusak ketertiban Gaza lewat kampanye militer, total sudah kekacauan di Gaza dan Israel pun percaya Hamas bakal seinferior Fatah.

"Hamas tak akan seperti Fatah yang lemah, korup dan tidak populer. Hamas justru akan kian ekstrem karena blokade dan serangan terus menerus Israel hanya membuatnya berpikir sia-sialah bernegosiasi dengan Tel Aviv," kata wartawan AS keturunan Iran, Nir Rosen, dalam tulisannya di laman Aljazeera (30/12).

Lebih dari itu, invasi ke Gaza bukan saja mendegradasi citra Israel, namun juga memojokkan sekutu Arabnya.

"Damaskus telah menarik diri dari pembicaraan tripartit dengan Tel Aviv dan rakyat Arab murka tak hanya pada Israel dan AS, tapi juga pada pemerintah mereka yang dianggap bersekongkol dengan Washington," tutur Rosen.

Tidak itu saja, krisis Gaza telah menajamkan militansi muslim garis keras seluruh dunia sehingga menyulitkan Obama mengampanyekan perdamaian global, satu situasi yang didesain Israel.

"Saya telah berbicara dengan para aktivis jihad di Irak, Lebanon, Afghanistan, Somalia dan banyak lagi. Mereka menyebut Palestinalah yang memotivasi gerakan jihad mereka," ungkap Rosen.

Tak heran jika rakyat Israel sendiri mulai mengkritisi pendekatan pemerintahnya di Gaza. Dari 81 persen warga yang mendukung kampanye militer ke Gaza, hanya 39 persen yang percaya Hamas bisa digulingkan.

Jika pun Israel menang maka kemenangan itu malah mengungkap ketidakmampuan Israel hidup berdampingan dengan bangsa lain dan masyarakat Yahudi pun bertanya apa yang sebenarnya diinginkan para politisi Israel.

"Inikah keterbatasan kita sebagai manusia yang dilahirkan kembali dari holocaust (pembasmian etnis semasa Perang Dunia Kedua)?" tanya Sara Roy, cendikiawan Yahudi pengarang "Failing Peace: Gaza and the Palestinian-Israeli Conflict" seperti dikutip Christian Science Monitor (2/1).

Sara adalah seorang dari kelompok warga Yahudi yang ingin adil mengkritisi bangsanya, bukan saja demi keadilan universal, namun melihat fakta betapa Israel sekarang sendirian dan tererosi superioritasnya. (*)

PS:
Mudah-mudahan kita selalu mendoakan saudara-saudar kita yang tengah di landa prahara yang tidak berkesudahan

(dari berbagai sumber dan Antara......Yetty K ssg III)

Sunday, January 11, 2009

Pekan Kedua Agresi Gaza: 780 Gugur dan 3250 Lebih Terluka

Gaza-Infopalestina: Korban serangan serdadu Israel yang dilancarkan lewat darat, udara dan laut terus bertambah. Menginjak pekan kedua gempuran ke Gaza sudah lebih dari 780 korban meninggal dan 3250 lainya luka-luka.
Menurut Direktur Layanan Ambulan dan Emergency Departemen Kesehatan Palestina, Dr. Muawiyah Husnain menyebutkan, jumlah syuhada terus meningkat mencapai 780 syuhada, kebanyakan anak-anak dan wanita. Pada Kamis (8/1), tim medis menemukan lebih dari 50 jenazah yang meninggal akibat kebidaban Israel.

Menurut Husnain jasad para korban tersebut ditemukan di bawah reruntuhan rumah-rumah yang hancur akibat bombardemen rudal-rudal Israel. Sementara mobil-mobil ambulans tidak bisa mencapai lokasi korban, karena dihalang-halangi serdadu Israel .
Husnain menambahkan, pihaknya masih mencari jenazah korban yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempuran roket Israel. Para petugas medis tidak bisa mencapai lokasi karena mendapat ancaman dari serdadu Zionis yang akan menggempur mereka lagi jika masuk lokasi serangan.
Serdadu Israel , Selasa kemarin, memusatkan seranganya ke rumah-rumah warga dan sekolah milik PBB. Akibatnya ratusan anak sekolah yang berlindung di sana tewas seketika. Sebanyak 135 anak bergelimpangan di antara puing dan reruntuhan bangunan.
Mereka juga menggempur masjid-masjid yang berada di Gaza . Sebanyak 15 masjid luluh lantak terkena rudal Israel . Mereka semakin beringas menyusul kegagalanya dalam manghadapi serangan perlawanan yang berimbas pada tewasnya puluhan serdadu dan ratusan lainya luka. Mereka melampiaskan dendamnya kepada rakyat sipil Palestina.
Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem sebelumnya telah menegaskan bahwa korban pembantaian terbuka yang dilakukan Zionis Israel di Jalur Gaza sejak hari Sabtu (27/12), terus bertambah banyak. Terlebih ada ratusan korban luka yang dalam kondisi kritis dan puluhan lainnya masih di bawah puing-puing reruntuhan.
Naeen menegaskan persediaan obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya sangat kurang untuk menghadapi kondisi darurat ini. Dia mengungakapkan ada 105 jenis obat-obatan utama yang stoknya nol, 225 kebutuhan medis lainnya stoknya juga nol. Sementara itu 93 bahan khusus laboratoriam stoknya juga nol.
Naeem mengatakan 50% mobil ambulan tidak bisa beroperasi karena tidak ada gas dan bahan bakar akibat blockade. Saat ini juga sangat dibutuhkan pembangkit listrik. Naeem menegaskan semua itu sudah terjadi sejak sebelum pembantaian yang dimulai Israel Sabtu lalu dan akibat blockade Israel .
Dia menyatakan pasukan penjajah Zionis Israel tidak hanya menggempur isntitusi-institusi dan gedung-gedung namun mulai mengempur fasilitas-fasilits sipil dan rumah-rumah warga. Ada puluhan peringatan untuk mengosongkan rumah dan ancaman kepada para penghuninya akan dihancurkan di atas kepala mereka. Dia meminta pengiriman tim medis Arab dan rumah sakit-rumah sakit lapangan untuk membantu pengobatan korban luka di saat-saat korban tiba. Dia mengimbau Negara-negara Arab untuk mengirim obat-obatan dan kebutuhan medis secepatnya dan mengganti kekurangan mobil ambulan dengan mengirim mobil ambulan yang siap beroperasi.
Pemandangan Mengerikan
Organisasi Palang Merah Internasional, Kamis (08/01), mengumumkan 4 mobil ambulan milik palang merah dan bulan sabit merah Palestina sampai di sejumlah rumah di kampong Zaitu, kota Gaza, yang hancur akibat bombardemen Israel. Pihaknya menemukan banyak jasad korban yang meninggal sementara anak-anak duduk di sisi jasad ibu-ibu mereka.
Dalam pernyataan yang salinannya diterima koresponen Infopalestina, Palang Merah Internasional menegaskan pihaknya telah meminta jaminan lalu-lintas yang aman agar mobil-mobil ambulan bisa sampai ke kampong ini sejak 3 Januari lalu. Namun sama sekali tidak mendapatkan izin dari militer Israel kecuali, Rabu (07/01) siang.
Menurutnya, “Tim gabungan antara Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina menemukan di sebuah rumah 4 orang bocah yang sedang duduk di sisi jasad ibu mereka. Dengan gemetar mereka menyampaikan tidak mampu lagi berdiri.” Sementara itu anggota tim gabungan menemukan seorang laki-laki yang masing hidup bersama 12 jasad korban lainnya yang sudah meninggal.
Di rumah yang berbeda tim menemukan 15 orang lain yang selamat dari serangan Israel , di antara mereka ada beberapa yang terluka. Di rumah yang lain juga ditemuka 3 jasad korban yang sudah meninggal.
Kepala Delegasi Palang Merah Internasional di Palestina, Bayer Fitash mengatakan “ini adalah peristiwa yang mengerikan. Dipastikan pasukan militer Israel mengetahui kondisi ini namun tidak mau memberikan bantuan kepada korban yang terluka. Mereka juga tidak mengizinkan kami dan Bulan Sabit Merah membantu mereka.”
Fitash menambahkan, “Tembok tinggi dari tanah yang didirikan militer Israel menghalangi mobil-mobil ambulan untuk sampai ke kampung tersebut. Untuk itu, kami terpaksa membawa anak-anak dan korban luka ke mobil ambulan dengan menggunakan gerobak yang ditarik keledai.”
Dia melanjutkan, “Tim gabungan dari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina berhasil mengecakuasi 18 korban luka dan 12 lainnya yang kondisinya sangat lusuh dan kotor. Tim gabungan juga berhasil mengevakuasi dua jasad korban yang meninggal. Hari ini (Kamis, red) Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah akan mengumpulkan jasad yang masih tertinggal.”
Fitash mengisyaratkan, Palang Merah Internasional tahu bahwa di sana ada korban luka lain yang bersembunyi di rumah-rumah yang hancur di kampung Zaitun. Pihaknya meminta militer Israel memberikan jaminan keamanan kepada timnya dan mobil ambulan Bulan Sabit Merah Palestina untuk lewat
dengan aman agar bisa masuk ke kampung tersebut untuk mencari korban luka yang lain.

Sampai saat ini Palang Merah Internasional belum mendapatkan kepastian apapun dari otoritas Israel untuk memberikan kemudahan dalam hal ini. Pihaknya menilai militer Israel telah mengingkari janji kewajibannya sebagaimana ditegaskan dalam hukum kemanusiaan internasional yang mengharuskan Israel memberikan perlindungan kepada korban luka dan mengevakuasi mereka. Penundaan pemberian izin kepada tim penolong untuk masuk ke kampung tersebut adalah hal yang tidak bisa diterima. (seto, http://www.dakwatuna.com/)