Monday, May 18, 2009

Futur


" Sesungguhnya pandangan adalah panah dari panah-panahnya Syaithan"

Kalimat inilah yang sering terngiang berulang -ulang dalam benakku, sebuah kalimat yang diucapkan seorang ustadz dulu dikampus ketika aku kuliah. sebuah kalimat yang berusaha mengingatkan beapa rentannya iman sesorang yang tidak bisa menahan pandangan nya.
Kalimat yang mendampingi kalimat tadi diucapkan sang ustadz adalah "lakal awwal wa'alaikats-tsaani" ; yang terjemah bebasnya mungkin berbunyi : "bagimu yang pertama dan yang kedua mencelakakanmu".

Iman manusia, naik ketika ia taat, dan turun ketika ia melakukan maksiat, gambaran sederhana yang bisa kita hadirkan dalam kehidupan kita tentang bagaimana cara menghisab diri, mengetaahui tingkat keimanan kita saat ini. Naikakah iman kita turun kah atau justru ebih dari itu, iman kita mungkin sedang terjun bebas .... karena makin terbiasa dengan dosa yang terus menerus dilakukan.

Maka tak heran ketika para sahabat mendawamkan tegur sapa mereka ketika mereka bertemu dengan pertanyaan : "kaefa imaanukal yauma" ("apa kabar imanmu hari ini") sebuah peranyaan yang mungkin kadang membuat orang tertentu seperti saya tersipu malu, karena wallahu a'lam, Maha Tahu Alloh alangkah rapuhnya iman ini.

Bagi saya Futur, adalah sebuah kata yang menggambarkan bagaimana iman seseorang sedang dipertanyakan dan dipertaruhkan, oleh dirinya sendiri, karena ... diambang waktu yang terus berjalan, dimasa yang terus bergulir yang tanpa kepastian tentang kapan waktu itu, kesempatan itu akan terus bergulir bagi seorang hamba menuju ajalnya, sementara dilain sisi sang pemikul amanah waktu dari Rabbnya itu, tenggelam dalam malasnya berdzikir, malasnya beribadah atau bahkan jauh dari Alloh dan dekat dengan maksiat ... na'uudzu billah, bayangkan jika dalam keadaan seperti ini ia dipanggil oleh Yang Memiliki Usia, tiba ajalnya ... maka inilah yang disebut dengan su-ul khatimah, penghujung yang jelek, dan sejelek jeleknya penghujung adalah penghujung hidup dalam maksiat.

Su-ul Khatimah, Banyak kisah tentang hal ini yang sering kita dengar, contohnya, kisah bagaimana penghujung dua bersaudara yang ahli ibadah dan ahli maksiat yang justru dalam penghujung hidupnya mereka mendapatkan hal yang bertolak belakang dari apa yang didawamkan dalam hidupnya, sang ahli ibadah yang tiba2 tergiur godaan maksiat, dan sang ahli ibadah yang jusru dipenghujung hidupnya tertarik oleh keistiqomahan saudaranya dalam ibadah ...

Kemudian, apa yang bisa kita lakukan?
Firman Alloh dalam Al-Qur'an yang artinya : Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya.[Ath-Thalaq : 3]

Bagi setiap amalan ada masa-masa rajin dan tiap-tiap masa rajin ada futur. Namun, barangsiapa yang futurnya menjurus kepada sunnahku,maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk. Barangsiapa pula yang futurnya menjurus kepada selain sunnahku, maka ia telah tersesat.” [HR.Al-Bazzar] Dalam pengejawantahannya, futur dapat memiliki rentang gejala dari yang ringan hingga berat. Gejala futur yang berat biasanya dapat dideteksi secara cepat misalnya saja dari penurunan kuantitas ibadah fardhu atau melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Namun, biasanya yang kerap tidak disadari adalah gejala futur yang ringan seperti bersikap ragu-ragu atau melakukan perbuatan mubah secara berlebihan.
Etiologi atau penyebab futur sendiri ada beberapa hal di antaranya; berlebihan dalam beragama, berlebihan dalam perkara yang mubah, cinta dunia, dan lengah terhadap hal yang syubhat dan dosa. Seseorang yang membebani diri melebihi kemampuannya dalam segala hal kelak dapat mengalami frustasi kejiwaan dan keimanan. Untuk itu, Rasulullah SAW telah bersabda : “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” [HR. Bukhari-Muslim] Penyebab lain dari futur adalah berlebihan dalam perkara yang mubah. Salah satu contoh berlebihan adalah dalam hal makan. Meskipun makan merupakan satu keharusan, tetapi jika berlebihan dapat menyebabkan bobot tubuh bertambah hingga akhirnya sulit untuk beraktivitas termasuk beribadah. Selain itu, cinta kepada dunia juga dapat menyebabkan seseorang terjangkit penyakit futur. Sikap cinta dunia akan berpengaruh sangat besar dan mendalam hingga pada kulminasinya dapat membuat jiwa menjadi lemah. Ini menjadi pintu bagi syaithan untuk memasuki jiwa orang-orang yang beriman. Hal lain yang juga kerap tidak disadari sebagai penyebab dari futur adalah lengah terhadap perkara syubhat dan dosa. Manusia dalam tiap episode kehidupannya pasti akan dapat melakukan khilaf dan dosa, tapi sekali-kali jangan melakukan sikap toleransi terhadapnya. Jika hal ini terjadi maka implikasinya adalah penurunan semangat hingga akhirnya terjadi futur.
Meskipun futur merupakan perkara yang lumrah terjadi pada seorang manusia, tetapi tetap saja futur harus mendapat penatalaksanaan secara tepat. Hal yang utama untuk dilakukan adalah dengan cara menjauhi tiap delik perbuatan maksiat yang kecil apalagi yang besar. Berusaha menjaga ibadah rutin di waktu siang dan malam serta menjauhi sikap berlebihan dalam hal yang mubah dapat pula menjadi cara untuk mengatasi futur. Biar bagaimanapun, agar futur dapat ditangani secara benar, seseorang harus segera menyadari apabila dirinya telah terserang penyakit futur. Apabila ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjangkit futur, maka ia juga tidak akan segera bertindak untuk mengatasi futur tersebut. Semoga Allah SWT selalu menjaga tiap hidayah yang telah diberikanNya pada kita dan menjauhi kita dari penyakit futur. Amin Ya Rabb.




0 comments:

Post a Comment